“The
world has enough women who know how to be smart. It needs women who are willing
to be simple. The world has enough women who know how to be brilliant. It needs
some who will be brave. The world has enough women who are popular. It needs
more who are pure. We need women, and men, too, who would rather be morally
right than socially correct.”
Friday, August 2, 2013
Berikan Hadiah Terindah untuk Melihat :)
Seorang sahabat tunanetra bertanya: "Sore ini langit berwarna apa?"
Mataku berkaca, kujawab dan kugenggam tangannya: "Jingga."
"Seperti apa warna jingga?"
Kubisikkan kata di telinga: "Hangat! Seperti genggaman tangan kita."
Andai
banyak insan berkenan menjadi pendonor mata. Sahabatku akan mengenggam
hangatnya asa, tuk nikmati langit jingga.
Berminatkah Anda?
Hub. Bank Mata
Telp. 021 5206659 (Jakarta) atau di kota Anda
Berminatkah Anda?
Hub. Bank Mata
Telp. 021 5206659 (Jakarta) atau di kota Anda
Wednesday, July 24, 2013
Ujian
Pernah
ngalamin ujian? Pasti pernah donggg.. Mulai dari ujian yang paling gampang,
ujian SD (tapi dulu sih ga berasa gampang juga ya haha), ulangan harian di SMP,
ujian SMP, terus ujian SMU dan serangkaian ujian lainnya.
Kira-kira
apa sih yang kita lakukan menjelang ujian? Gue yakin kalau diadakan survey
pasti jawaban tertinggi BELAJAR. Dan biasanya menjelang ujian para 'early bird'
(manusia-manusia yang tidak bisa bertahan hidup di atas jam 11 malam) entah
kenapa bisa tahan belajar sampai jam 3 pagi. Dulu ketika masih SMU yang namanya
suplemen kesehatan kayak Extra Joss sampe Krating Deng dan yang paling
tradisional, kopi, biasanya laku keras. Belum lagi tukang fotokopi yang sering
kebanjiran rejeki karena banyaknya catatan 'bersama' yang harus difotokopi
(btw, baru sadar kalau ternyata ujian membawa berkah tersembunyi juga bagi
beberapa pihak hehe).
Kenapa
sih manusia-manusia yang biasanya sering tidur ketika jam pelajaran, mendadak
berubah menjadi anak-anak 'teladan' menjelang ujian? Gerombolan yang biasa
selalu duduk di belakang dan bikin ribut tiba-tiba berpindah haluan menjadi
anak-anak manis, yang memandang wajah dosennya dengan tatapan penuh harap.
Belum lagi buku pelajaran yang biasanya jarang disentuh tiba-tiba berubah jadi
lebih menarik dari foto pacarnya. Kenapa ya?
Guys,
gue rasa sih kalian tahu kenapa.. yaa biar lulus dongggg!!! Hahahaha. Iya lah,
buat apa ikut ujian kalau akhirnya enggak lulus? Malu lagi kalau sampe enggak
lulus. Belom lagi kalau mesti ngulang pelajaran. Ada mata kuliah dasar di
fakultas gue yang kalau sampai nggak lulus mata kuliah itu berarti nggak bisa
mengambil mata kuliah semester depan, dan harus nunggu tahun depan untuk
kembali duduk di kelas yang sama dengan adik-adik kelas yang masih polos dan
lugu. Malu dong.
Biasanya,
kita semua begitu serius dalam mempersiapkan ujian (gue enggak tahu kalian
gimana, kalo gue sih pasti serius, ehem! Hehehe). But, bagaimana dengan
ujian-ujian yang Tuhan berikan? Apakah kita juga menganggapnya sama 'serius'
dengan ujian-ujian kita di sekolah atau di kampus? Atau kita cuma menganggap
ujian dari Tuhan sesuatu yang main-main dan tidak serius?
Guys,
be careful. Ujian Tuhan itu jauuhhh lebih sulit lulusnya daripada ujian di
sekolah. Kenapa gue bilang begitu? Ya jelas, soalnya kalau ujian Tuhan enggak
bisa nyontek. Gimana mau nyontek lah teman-teman 'sekelas' kita semua soalnya
beda-beda. Terus udah gitu, Tuhan kan bukan dosen ganjen yang kalau kita
kedipin terus langsung dikasih nilai B+ buat ujian kita, Tuhan juga bukan
pengawas ujian yang bisa disogok supaya kita bisa 'mengamalkan musyawarah
mufakat' di tengah ujian.
Udah
gitu, setahu gue, 'sekolah Tuhan' enggak kenal istilah katrol nilai. Jadi kalau
ujian kalian jelek, ya siap-siap aja menjalankan ujian ulang. Kalau masih jelek
lagi, ya ikut ujian berikutnya. Kalau masih jelek lagi? Gimana dong? Ya ulang
lagi. Mungkin kalian pikir, masa sihhh.. Masa kalau kita enggak lulus 1 'mata
kuliah' kita harus ngulang bagian itu sih? Oiya jelas. Sampai lulus. Palingan
Tuhan masukin kita ke kelas tambahan kalau enggak lulus-lulus juga. Kenapa,
karena Tuhan enggak mau 1 pun anak-Nya gagal. Ia ingin kita semua lulus summa
cum laude. Ceilaa... sayang anak-Nya yang pada males dan enggak mau lulus
dengan nilai bagus.
Tuhan
memang enggak memberi kita batasan berapa kali kita harus ngulang ujian itu
sampai kita lulus, tapi masa enggak malu sih? Temen-temen kita udah mulai ujian
'persamaan linear untuk perhitungan ekonomi' atau 'perpotongan 2 garis sejajar
yang saling menyilang', kita masih enggak hafal 13 x 15 itu berapa.
Max
Lucado mengatakan dalam bukunya Just Like Jesus, Tuhan menerima kita apa
adanya, namun Ia menolak membiarkan kita seperti ini. Ia ingin kita menjadi
serupa dengan Anak-Nya.
Guys,
gue rasa itu alasan kenapa Ia memberi kita ujian-ujian kehidupan. Bukan karena
Ia sadis atau type orang yang 'gila sekolah', enggak. Dia memberi kita ujian
supaya kita bisa serupa dengan Anak-Nya.
Terus
gimana dong caranya supaya bisa lulus dalam ujian-ujian Tuhan?
Ya
sama aja seperti kalau kita mau lulus dalam ujian-ujian di sekolah. Belajar.
Cuma yang dipelajarin bukannya Statistik atau Manajemen Keuangan. Yang
dipelajari tentu aja Alkitab. Gimana mau dapet hasil yang bagus kalau
Alkitabnya masih halus terawat dan bau toko padahal sudah diwariskan 3 generasi,
atau kayaknya Alkitabnya penuh dengan pembatas Alkitab yang lucu-lucu (biasanya
cewek nih) sampai sangking penuhnya, Alkitabnya jadi berat dan males dibuka.
Dan
1 lagi yang enggak boleh kita lupa, sama kayak kuliah, kita enggak cukup dengan
hanya baca diktat menjelang ujian, tapi kita juga harus dengerin ketika
dosennya ngajar. Kita juga harus dengerin suara Tuhan ketika Ia baru ngajar
kita. Guys, siapa tahu kunci jawaban dari ujian yang Tuhan kasih ke kita, Tuhan
udah kasih tahu ketika dia ngajar kita tiap pagi. Tapi gimana mau jawab kalau
kita tidur melulu tiap kali Tuhan ngomong, atau kita malah enggak pernah tahu
kalo Tuhan ngomong sama kita.
Ketika
kita sedang menjalani ujian dari Tuhan, 1 lagi yang perlu kita ingat, Tuhan
tahu batas kemampuan kita. Dia enggak mungkin kasih soal persamaan logaritma
sama anak TK yang baru bisa tambah dan kurang. Sebaliknya jangan berharap Tuhan
mau kasih soal perkalian dan pembagian sama anak SMU kelas 3 yang udah belajar
Integral. Tuhan tidak akan memberi soal ujian yang terlalu susah, tapi juga Ia
tidak akan memberi soal ujian yang terlalu mudah.
Terakhir,
hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa
apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,
dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Amin.
Thursday, July 18, 2013
Bintang Laut
Namaku bintang laut. Aku tinggal di laut. Ada 1 hal
yang sangat kubenci. Setiap pagi jika air laut sudah surut, aku seringkali
terdampar di pantai. Aku harus berjuang keras untuk bisa kembali ke laut, itu
bukan hal yang mudah. Aku melihat banyak temanku yang gagal dan akhirnya mati
lemas. Hatiku sedih melihat mereka, namun akupun tak berdaya untuk
menyelamatkan mereka. Jangankan menolong mereka, aku tidak mati lemas saja
sudah merupakan suatu berkat.
Suatu waktu, aku tiba di kawasan baru. Di sebuah pantai
asing yang tidak kukenal. Aku sedang berusaha untuk kembali lagi ke laut. Hup,
aku melangkahkan tanganku satu persatu. Aku tidak mau mati lemas. Tiba-tiba aku
merasa tubuhku terangkat, dan aku terlempar ke laut. Aku terkejut. Seekor
bintang laut lain lewat dihadapanku.
Aku bertanya kepadanya, "Hei apa yang terjadi?
Kenapa tiba-tiba aku bisa kembali ke laut?"
"Oh. Di dekat sini hidup seorang nelayan. Setiap
pagi, ia berjalan dan mengembalikan setiap bintang laut yang terdampar di tepi
pantai," jawab si bintang laut itu.
Aku mengerti dan sejujurnya, aku merasa ada perasaan
aman. Akhirnya ada seseorang yang mampu menolongku dan teman-temanku. Aku tahu
bahwa kami tidak sanggup terus menerus berjuang untuk kembali ke laut. Suatu
saat, kami pasti akan mati lemas, jika tidak ada yang menolong kami.
Suatu pagi, tiba-tiba aku terdampar lagi. Aku tetap
berusaha untuk kembali. Tapi sepertinya pagi ini, aku membutuhkan sedikit
kekuatan ekstra. Ada luka di tanganku, dan luka itu menyulitkan aku untuk
kembali. Aku sudah mau menyerah, ketika tiba-tiba ada suara yang terdengar,
"Jangan takut bintang laut, aku akan membantumu kembali ke
laut."
Aku menghembuskan nafas lega, aku tahu aku tidak akan
sanggup kembali dengan kekuatanku sendiri. Dan aku merasa lega ada nelayan yang
mau membantuku. Baru saja, ia akan melemparkanku, ada suara lain yang
terdengar.
"Apa yang sedang kau lakukan?!"
Nelayan itu menoleh dan melihat seseorang berdiri di
belakangnya.
"Aku sedang mengembalikan bintang laut yang
terdampar di pantai."
"Tidak kah kau sadar bahwa kau melakukan sesuatu
yang sia-sia? Ada begitu banyak bintang laut yang terdampar di setiap pantai di
dunia ini. Kau melakukan hal yang sia-sia, Pak."
Nelayan itu menunduk dan melihatku. Rasa ketakutan yang
luar biasa tiba-tiba mencengkeramku. Ingin rasanya aku berteriak,
"Pleasee, jangan dengarkan orang itu, Pak. Jangan dengarkan dia. Aku
membutuhkan bantuanmu. Aku akan mati jika kau tidak menolongku!!"
Aku mendengar suara itu berbicara lagi, "Pak,
lihat bintang laut itu terluka. Ia hanya akan mati, cepat atau lambat. Kau
membuang waktumu."
Nelayan itu tersenyum dan mengangkat tangannya,
"Sekalipun keliatannya sia-sia, paling tidak bintang laut ini selamat.
Justru karena ia terluka, maka ia membutuhkan bantuanku."
Dan nelayan itu melemparku ke laut. Aku pun selamat.
Special thanks to Jesus,
Thanks for saved me, The Little Starfish :)
Wednesday, June 12, 2013
Sendiri Bersama-sama
Teman saya, seorang penulis, pernah berujar, “... yang aku senangi dari facebook adalah kenyataan bahwa aku tidak sendiri tapi dikelilingi banyak orang ketika bekerja di rumah”. Inilah salah satu alasan mengapa orang begitu senang ber-facebook-ria. Orang-orang merasa mendapatkan teman. Mereka bisa bertemu dengan kawan lama, kawan baru, dan kawan sekarang secara bersamaan sekaligus dalam satu ruang. Mereka juga bisa berkomunikasi dan berinteraksi secara intens kapan pun dan dimana pun asal ada akses internet. Dari kemudahan akses dan kesempatan itu orang jadi terbuka pada suatu kemungkinan komunikasi dan penjelajahan ruang yang begitu luas. Tiada batas dan aturan pengikat dalam ruang jejaring sosial itu. Mau berpolah apa saja seolah bisa, mau telanjang kek, mau omong kasar kek, semua bisa dilakukan lewat jejaring sosial. Mau mencari kesenangan, banyak permainan dan tontonan menarik di jejaring sosial ini. Mau mencari informasi atau pengetahuan, dengan mudah kita bisa mendapatkannya. Sampai akhirnya secara ekstrem kita mendapati jejaring sosial ternyata turut berperan dalam penggulingan dan revolusi pemerintahan. Berbagai aliran informasi lewat jejaring sosial ikut mendukung berbagai gerakan revolusioner di muka bumi ini.
Sadar atau tidak sadar, kehidupan kita pada akhirnya terpengaruh secara drastis oleh proses berjejaring di dunia bernama internet. Cara kita berkomunikasi, memandang dunia, dan cara kita menentukan identitas lambat laun dipengaruhi oleh perkembangan jejaring sosial di internet. Keseharian kita pun akhirnya ikut ditentukan oleh pemakaian jejaring ini. Bolehlah kita bilang bahwa kita tinggal di hutan tanpa memiliki akun facebook misal, kemudian kita merasa aman-aman saja dan tidak memiliki masalah karenanya. Tapi hal ini terjadi ketika kita benar-benar tidak terkoneksi dengan orang lain. Begitu kita bergaul dengan masyarakat luas maka pandangan orang terhadap kita sangat mungkin sekali dipengaruhi oleh kepemilikan akun suatu jejaring sosial. Intinya kita bisa dipandang aneh atau tidak wajar ketika berujar: saya tidak punya facebook. Bahkan ketika kita merasa tetap tidak ada masalah sebenarnya di luar kita sudah menjadi masalah tersendiri karena dianggap tidak biasa. Tentu saja ada kompleksitas tersendiri dalam proses “pandang memandang” ini. Sederhananya, kepemilikan akun itu menentukan siapa “saya” di mata orang lain dan di mata diri sendiri.
Lebih konkrit lagi, jejaring itu memiliki kekuatan yang begitu besar sehingga mampu membentuk perilaku sehari-hari dan kepribadian kita. Contohnya: kalau kita makan bersama, dulu kita bisa saling ngobrol dengan santai dan nyaman. Saling berbagi rasa dan kehangatan. Sekarang, bisa jadi kita ada di satu meja tapi sibuk sendiri-sendiri dengan gadget kita. Bicara satu dengan yang lain tapi wajah menatap gadget. Perilaku kita berubah dan karakter kita tertutup atau lebih ekstrem lagi berubah ketika menghadapi orang lain. Tadinya kita pribadi yang ramah dan supel tapi begitu berkenalan dengan jejaring sosial atau internet kita bisa merubah karakter karena kebutuhan tertentu. Perlahan namun pasti karakter yang kita bentuk di dunia maya itu membuat kita selalu berstrategi untuk menonjolkannya. Perlahan namun pasti pula aktifitas kita di dunia maya membuat kita menyendiri dan tidak supel lagi.
Pada titik inilah teman saya yang lain berujar, “kita sebenarnya sedang menuju suatu kehidupan yang menyendiri, kita hidup sendiri-sendiri di tengah keramaian”. Kok bisa? begitu ujar saya. Bayangkan, dia berujar, kita semua terkoneksi dengan orang lain lewat internet tapi kita melakukan komunikasi tersebut sendirian di kamar. Kita mengadakan percakapan dengan orang lain lewat internet tapi pada saat bersamaan kita sendirian secara fisik di suatu ruang. Ini mengerikan, begitu kata dia.
Maka dari situlah penjelajahan saya mengenai dunia bernama sendirian dimulai. Perlahan namun pasti saya mulai menyadari bahwa internet ini ternyata menggerogoti kemanusiaan kita. Hal ini terjadi karena aktivitas kita berinternet perlahan namun pasti membuat perilaku kita berubah. Sebagai manusia yang utuh kita tentu diharapkan bertumbuh sesuai dengan nilai atau norma yang ideal dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya saja kita diharapkan bisa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik, berbicara bertatap muka, menunjukkan empati, perhatian, senyum dan kehangatan. Perilaku itu menjadikan kita diterima dan dihargai. Dalam keseharian, kita dituntut untuk memiliki identitas dengan perilaku ideal tertentu pula. Kita beragama dan kita belajar untuk memenuhi berbagai tuntutan dalam agama tersebut agar bisa disebut: beragama. Sekolah ikut menentukan siapa kita dan bagaimana kita bertingkah, demikian juga kampung kita ikut menentukan siapa kita.
Semua contoh tadi menjadi bubar alias bubrah alias berantakan di dunia bernama internet. Berantakannya bukan karena pecah menjadi berkeping-keping tapi justru karena didorong menjadi seragam. Begitu berinteraksi dengan internet kita didorong untuk menjadi paham bahasa yang ada dalam internet yang dibangun untuk meleburkan keunikan menjadi keseragaman. Lihatlah semua menunjuk gambar jempol ke atas ketika merasa senang. Gaya foto juga semakin seragam: tertawa dengan mimik tertentu dan menunjukkan jari berbentuk huruf V atau tiga jari teracung. Sepertinya sepele tapi ada banyak penyeragaman di sana. Kalaupun ada berbagai variasi dan akomodasi keunikan nampaknya kita juga harus menelaah apakah keunikan itu dilakukan atas dasar orisinalitas, meniru, atau—ini yang cukup ngeri—dilakukan dengan satu sikap seragam bernama kemunafikan. Kok bisa?
Ketika kita memasuki dunia jaringan sosial mau tidak mau kita berusaha membangun image atau tampilan tertentu. Nah di sinilah kita memulai menyusun strategi beridentitas di dunia maya. Kita mulai membangun cara bagaimana kita berujar, memunculkan foto, menuliskan komentar, mencari teman dan banyak lagi. Kita ingin dilihat sebagai pribadi tertentu di dunia baru ini. Entah anda setuju atau tidak kita sedang menuju pribadi ganda. Proses menentukan image ini akan sangat berbeda dengan dunia nyata karena media dan prosesnya beda. Di dunia maya kita tidak bersentuhan dan tidak melihat sendiri orang yang sedang kita ajak berkomunikasi atau melihat profil kita. Artinya kita didorong untuk menunjukkan terus keberadaaan kita dengan keras supaya orang yang tidak melihat kita itu memiliki gambaran siapa kita ini. Nah disini proses itu tidak bisa jujur sejujur-jujurnya. Pasti ada perubahan image. Kalimat ini menjelaskannya, “Kok beda sama facebook?” Bukankah tanpa sadar kita sudah memiliki dua kepribadian? Pribadi beridentitas tertentu di dunia maya dan pribadi pribadi beridentitas tertentu di dunia nyata.
Mari kita berusaha memikirkan proses pembentukan pribadi dan identitas tadi. Pertama, semuanya dilakukan dalam kesendirian; kedua, dilakukan dengan membayangkan berbagai kemungkinan yang tidak nyata; ketiga, perlahan hal itu merubah keseharian kita. Teman saya menyebut hal ini mengerikan. Mengapa? Dari bayi sampai kecil kita diajar untuk berperilaku tertentu. Ada waktu yang cukup panjang yang kita lampaui sampai menjadi kita saat terkini. Nah dalam proses berinternet, perubahan sikap dijalankan dalam hitungan yang amat cepat. Tidak perlu bertahun-tahun. Sepertinya—lagi-lagi—sederhana, tapi dalam percepatan itulah kebingungan sedang merasuki banyak pribadi. Saya membahasakan begini: eh saya bisa sendirian menentukan identas, eh saya tidak perlu orang lain, wow saya bisa menjadi batman di facebook, wow saya bisa menjadi orang kuat di facebook dst. Tapi di sisi lain kita juga merasa: loh kok cepat sekali berubah, waduh kok saya harus tetap berkepribadian seperti batman, bagaimana ini, loh saya kan tidak kuat, loh saya harus menyiapkan skenario tertentu di facebook. Semua berlangsung cepat. Tapi kemudian saya juga berujar: tapi kok asik ya? Wah saya bisa jadi apa saja nih. Pada titik ini, bukankah kepribadian kita terpecah? Bukankah tubuh kita tidak terlibat dalam kepribadian yang lain itu? Semua menjadi serba cepat dan kata instan dalam arti yang buruk bisa dilihat di sini karena yang cepat itu membuat jiwa dan tubuh kita terpecah. Bukankah kemanusiaan kita menjadi tidak utuh? Ketidakutuhan itu semakin nyata dengan makin hilangnya keunikan karena penyeragaman.
Fakta lainya, kita melakukannya dalam kesendirian secara bersama-sama. Kita memerlukan suatu cara pandang baru dalam konteks ini. Tantangan tersendiri juga buat agama karena: di internet tidak peduli agamanya apa pokoknya kita dibujuk untuk membangun identitas baru dalam keramaian sekaligus kesendirian. Nah makin kuat kan kesan ketidakutuhan manusia?
Saya tidak sedang berusaha mengajak orang membenci internet, mungkin saya juga salah. Saya sedang mengajak berefleksi... agar kemanusiaan kita menjadi utuh dan agar kita siap menghadapi tantangan hidup baru bernama: sendiri bersama-sama.
Subscribe to:
Posts (Atom)
