Tuesday, July 1, 2014

Clouds

There are many types of people in the world, therefore many types of imagination. Some have.... limited brain possibilities and their imagination is like the thin summer clouds over a blue sky. Um.. thin, white, transparent and regular in shape, constant.

Then there's the regular people, who dream and talk and plan and shape their life accordingly. These are the puffy, fluffy, yummy (eh yummy? sambil ngebayangin yupi sama marshmallow :p), big, all shape-like clouds. Some announce the storm, only to make way for the sun again, others travel a lot, carried by the wind and following an unknown and irregular path, and others move slow, changing shapes constantly.

And the last big category contains the less fortunate ones, who are the like 'late autumn' clouds. Grey and dull, blocking any ray of sunshine.

Which one are you?


Clouds are like the imagination.. They appear in any form and any shape, change and adapt, flow and travel. Believe in yourself and your imagination, to get new ideas and views of life. Something big awaits! -Unknown

Sunday, June 29, 2014

Soul Mate

“People think a soul mate is your perfect fit, and that’s whay everyone wants. But a true soul mate is a mirror, the person who shows you everything that is holding you back, the person who brings you to your own attention so you can change your life.

A true soul mate is probably the most important person you’ll ever meet, because they tear down your walls and smack you awake. But to live with a soul mate forever? Nah. Too painful. Soul mates, they come into your life just to reveal another layer of yourself to you, and then leave.

A soul mates purpose is to shake you up, tear apart your ego a little bit, show you your obstacles and addictions, break your heart open so new light can get in, make you so desperate and out of control that you have to transform your life, then introduce you to spiritual master…”

- Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love.

Tuesday, June 24, 2014

Cheating

One of the most worst things that you could ever do to someone. If you’re not happy with who you’re with, then leave them. There isn’t a use staying around when you don’t even feel the same way anymore. Don’t think about how much you’re going to hurt them, of course it’s going to hurt them. By breaking up with them, you’ve giving them time, time to get over you. By staying around just because you don’t want to cause them pain will just give them false hope. Causing them even more pain. As each day does go by, you’re only making them suffer more and more as they fall for you even harder as each day goes by. If you’re not happy, then leave. It’s as simple as that. There is no excuse for cheating on someone. If you did it, then you did it. The end. So do the one that couldn’t handle losing you a favor, leave. While they’re still capable of going on without you. Don’t leave it too late. You never know what could happen to them if you’ve been there for them for too long. They start to lean on you, you become a part of them. They make you their everything and once you leave, they’ll be left with nothing. So leave, while they still have something..

Friday, February 14, 2014

Jodoh


Jodoh. Beberapa waktu yang lalu timeline path gue penuh dengan gambar dan quotes seputar jodoh. Mungkin karena ini bulannya Valentine, okeh well apapun itu. Dulu gue percaya bahwa jodoh itu di tangan Tuhan, atau yang biasa ngetren disingkat ‘Johan’. Dan bahwa dari awal, Tuhan itu udah menetapkan seseorang yang entah gimana caranya suatu saat akan dipertemukan dengan gue, baik sengaja maupun enggak. Seolah-olah ada benang merah yang kasat mata sudah dihubungkan antara gue dan jodoh gue, dan dengan berbagai peristiwa dalam hidup suatu saat benang tersebut akan membuat gue berjumpa dengan dia dan somehow.... Tuhan akan membuat gue dan dia saling jatuh cinta. Begitu kah konsepnya?

Ya, itu dulu. Saat gue masih sering baca novel teenlit, nonton film korea yang super romantis, tapi sekarang? Saat gue tau kebenarannya, mungkin agak kecewa sih tapi... Dalam sebuah buku yang gue baca, ada perumpaan cerita, seperti ini.

Stan berlari kencang dengan jantung berdegup keras. Hari itu adalah hari ulang tahunnya dan ia dipanggil ke ruang kerja ayahnya. Stan tahu inilah saatnya ia menerima kado ulang tahunnya. Setiap tahun selalu begitu. Hanya saja, yang membuatnya berdegup keras adalah karena ayahnya berjanji akan memberinya sebuah handphone!

Stan masih berusia 12 tahun dan ia termasuk keluarga yang tidaklah terlalu berada. Di saat semua teman-teman sekelasnya sudah menenteng berbagai jenis dan merk handphone, Stan hanya bisa memandangi sambil membayangkan seandainya ia juga bisa menunjukkan “game” baru dalam handphone yang ia miliki sendiri. Ayah Stan sangat mencintai putra semata wayangnya itu. Maka, dengan segenap usaha dan cara, di ulang tahun Stan yang ke-12, ia berjanji untuk membelikan anaknya sebuah handphone baru.

Stan sudah sampai di ruang kerja ayahnya. Terengah-engah namun wajahnya begitu penasaran dan bersemangat. Melihat wajah Stan yang penuh harapan, sang ayah tersenyum dan kemudian berkata, “Stan... Ayah sudah berkata pada Om Jack bahwa kamu hari ini akan kesana dan memilih sebuah handphone. Ayah akan membiarkan kamu memilih handphone yang terbaik sesuai seleramu sendiri, namun... Ayah berpesan beberapa hal penting, pilihlah handphone yang harganya tidak lebih dari 2,5 juta karena Ayah sudah menitipkan uang segitu untuk Om Jack. Kemudian, ayah juga mengingatkan, fungsi utama handphone adalah untuk berkomunikasi, BUKAN untuk game! Jadi, pilihlah handphone yang benar-benar mudah dan nyaman untuk SMS dan menelpon.

“Tapi ayah...” Stan menyanggah, “Kalau aku menemukan handphone yang mudah untuk SMS dan menelpon sekaligus bisa buat main game dan melakukan hal-hal lain, termasuk memotret dan merekam video... boleh kan?” Sang ayah tertawa, “Tentu boleh anakku, tapi ingat harganya ya...” Stan mengangguk bersemangat. “Oke, tunggu apalagi? Segeralah ke toko Om Jack dan pilihlah hadiah ulang tahunmu!” Stan berlari kencang dan mengambil sepedanya. Dengan kekuatan penuh Stan mengayuh dan melesat menuju toko Om Jack.

Sesampainya disana, Om Jack sudah menyambut dengan senyum, “Hi Stan, ayahmu sudah menelpon... Silahkan pilih sendiri handphone kesukaanmu!” Tanpa berlama-lama lagi Stan segera mengamati berbagai macam jenis handphone, mencobanya, dan membandingkan. Hingga 1,5 jam Stan masih kebingungan memilih, ia tertarik pada beberapa handphone canggih namun anggarannya tidak mendukung. Stan juga tertarik pada beberapa handphone yang penampilannya trendy namun kurang nyaman untuk dipakai SMS dan menelpon. Di saat lain, Stan juga menemukan handphone yang sangat “user-friendly” untuk dipakai namun bentuknya sangat jadul.

Setelah beberapa kali berkonsultasi dengan Om Jack dan meminta saran darinya. Akhirnya, hati Stan tertambat pada 2 handphone di hadapannya. Keduanya memenuhi kriteria yang dipesankan oleh ayahnya dan masuk dengan anggaran yang ada. Hanya saja, handphone jenis pertama penampilannya sangan keren tapi Om Jack mengingatkan bahwa handphone jenis itu baterainya bermasalah sehingga tidak bisa dipakai lama, apalagi jika untuk bermain game. Di masa depan, kemungkinan untuk baterai itu drop dan harus diganti juga besar.

Sementara, handphone jenis kedua, bentuk dan penampilannya standar, namun baterainya tahan lama. Om Jack juga menyatakan bahwa handphone tersebut tahan banting dan sangat kokoh, sehingga untuk anak seusia Stan yang kadang kala ceroboh, handphone itu mungkin akan lebih diperlukan karena daya tahannya. Tapi, satu lagi kekurangan handphone jenis kedua ini yaitu jumlah game di dalamnya sedikit dan game-game yang ada untuk jenis handphone ini tidak semenarik game-game yang tersedia untuk handphone jenis pertama tadi.

Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya Stan mengambil handphone yang pertama. Maklum, Stan masih seorang anak ABG yang lebih mementingkan penampilan dan serunya game dibandingkan daya tahan baterai dan kekokohan sebuah handphone. Stan membawa pulang handphone pertamanya dengan senyum kegembiraan. Ia sudah bisa membayangkan betapa hebohnya besok ketika ia menunjukkan handphone barunya di hadapan semua teman-teman sekelasnya. Benar-benar tidak sabar menunggu hari besok!

Kira-kira begitu ceritanya, dan yang gue tangkap dari cerita ini adalah sang ayah enggak pernah menyuruh Stan untuk memilih handphone merek tertentu. Sang ayah justru ngasih KEBEBASAN pada Stan untuk MEMILIH. Cuma, sang ayah memberikan PANDUAN dan KRITERIA handphone seperti apa yang sebaiknya dipilih. Begitu juga dengan kita, Tuhan hanya memberikan PANDUAN pasangan seperti apa yang seharusnya kita pilih. Tuhan enggak pernah memerintahkan kita bahwa si Juliet harus menikah sama si Romeo, atau si Rose menikah dengan si Jack. Bukan demikian cara Tuhan bekerja.

Tuhan hanya memberi kita kriteria-kriteria apa yang sebaiknya kita ikuti. Dan jika ada 2 atau lebih yang memenuhi kriteria tersebut, maka sama seperti Stan pada cerita di atas, kita bebas memilih sendiri, masing-masing dengan kelebihan dan kelemahannya, dan juga semua konsekuensi atas pilihan kita. Inilah yang membuat kegembiraan gue jauh lebih besar daripada rasa kecewa gue, karena kebenarannya bilang bahwa ‘gue selalu bisa memilih untuk hidup gue sendiri, termasuk memilih untuk pasangan hidup gue.’

Happy Valentine :)

Thursday, December 12, 2013

Prince and Me (as The Frog)

I haven't posted in a while, as I've been pretty ill the last few days; and it’s annoying, especially when I want to go out and see my friends; but I just feel like snuggling up in bed. 

I can't believe November is already over! And here we are, di bulan tercinta gue (backsound: jeng jeng jeng jeng) DESEMBER \=D/ hahahaha.

Kemarin gue kelas dan ada salah satu temen gue yg speech tentang apa gitu gue enggak terlalu merhatiin sih, tapi gue inget waktu dia bilang “don’t be afraid, just kiss the frog” (jahat ya sebenernya, dia ngomong panjang lebar tapi yg gue tangkep cuma ‘kiss the frog’ nya doang hahaha yaudahlah mau gimana dong hihi). Pas dia ngomong gitu, gue tiba-tiba keinget sama dongeng waktu gue kecil ‘Princess and The Frog’ atau pas gue udah gede juga masih ada sih cerita itu, malah sekarang lebih bagus kartun nya diperanin sama Barbie gitu kan, pas gue kecil kayaknya belum sebagus itu filmnya, jadi bayangan gue tentang cerita itu juga ga bagus-bagus amat. Okay back to the topic, jadi kisah si Princess and The Frog ini yaitu dimana ada seorang pangeran tampan dikutuk jadi kodok, dan baru bisa kembali jadi pangeran lagi kalau ada seorang gadis yang bener-bener tulus cinta sama si pangeran kodok ini dan mau cium si pangeran yang dikutuk dalam wujud kodok. And then akhirnya si kodok pun bertemu sama sang putri dan si putri jatuh cinta sama si kodok, dan pada suatu ketika si putri nyium si kodok, and*puff* si pangeran pun berubah deh dari kodok buruk rupa ke wujudnya semula, jadi pangeran yang ganteng bangettttt. Klise banget ya kedengerannya, tapi namanya juga dongeng. Sometimes, gue berpikir stress kali ya itu putri, masa jatuh cinta nya sama kodok, dan gue udah enggak paham lagi gimana cara nya dia bisa punya perasaan kayak gitu tanpa ngerasa jijik dengan wujud si kodok yang *ehm* berlendir gitu kan kulitnya, terus kecil jijay bikin ilfeel dari pertama kali liat. Oh myyyyy..

Tapiiiiiii.. itu kan kalo jadi si putri, nah kalo jadi si kodok? Gimana caranya nemuin perempuan kayak si putri yg cinta dia apa adanya? Gimana kalo gue yg jadi kodok? Gue harus apaaaaaa supaya ada cowok yg cinta sama gue tanpa ngeliat wujud kodok yg jijay-jijay itu? Well, walaupun gue enggak sejijay kodok juga sih penampilannya ya :”) Iya gue tau gue enggak pernah dandan kalo mau kemana-mana, tapi masih cakepan gue lah ya daripada kodok ya kan ya dong. Gue ngebayangin pas gue jadi kodok terus ketemu pangeran ganteng, terus gue sapa dia ‘hai’ dengan mata kedip-kedip, mulut senyum-senyum manyun-manyun, lalu si pangeran tersebut.....................muntah :[ HAHAHAHA! Iyalah, siapa yang enggak jijik ngeliat kodok kedip-kedip manyun-manyun. Terus gue ngebayangin lagi kalo gue jadi kodok, terus cerita nya gue lagi ngedate gitu sama pangeran, kita lagi di padang rumput yang super indah, banyak bunga-bunga cantik disekitarnya, pangeran lari-lari sambil manggil-manggil nama gue, gue pun lompat-lompat (secara gue kodok) sambil manggil nama dia, kita berlari dan berlompatan, sambil diiringi musik india, lalu pangeran itu meluk gue hingga terjatuh dan menimpa badan gue, gue ga bisa napas, terus pangeran itu kasih gue napas buatan dan gue pun akhirnyaaaaaaaaaa...................mati. Coba bayangin ya kodok, sekecil telapak tangan lo doang paling, ditimpa badan manusia, apa enggak ko’it? HAHAHAHA. Yah, pokoknya itu deh random thought gue hari ini. LOL. Have a good good night :)